BENARKAH WILOTIKTO BUPATI PERTAMA BLORA?

Memang benar bahwa secara resmi, yang berkaitan dengan bupati pertama Blora, yang ditetapkan dalam peraturan daerah, tentang tanggal Hari Jadi Kabupaten Blora, telah jatuh pada seseorang Tumenggung dengan nama Wilotikto. Tetapi di kalangan pecinta sejarah Blora sendiri, seringkali menyangsikan, dan bertanya di kalangan mereka sendiri, apakah benar Blora semuda itu? Mereka benar-benar yakin bahwa Blora haruslah berumur jauh lebih kuno. Setidaknya ada sebuah legenda yang menjadi dasar argumen mereka, bahwa Blora merupakan letak negri kuno bernama Medang Kamulan. Namun, teori bahwa Blora itu seumuran dengan Medang Kamulan rapuh dan mudah patah karena tak ditemukan satupun bukti pendukung.

Blora lalu muncul mendadak di zaman Mataram Islam, saat terjadi perang tahta antara Amangkurat, Mangkubumi dan Raden Said. Dilukiskan bahwa sebelumnya Blora hanya berupa lahan kosong tak berpenghuni (grumbul). Lalu apakah benar demikian? 

Mungkin jawaban yang paling baik adalah melihat kronologi wilayah Mataram sebelum perang tahta itu terjadi, tepatnya di era kemenangan Amangkurat (II) dengan bantuan Kompeni melawan pemberontak asal Madura bernama Truno Joyo (1680). Alternatif cerita ini dapat ditemui dalam catatan Eropa karya Francois Valentijn. 

 

catatan Eropa karya Francois Valentijn.

Catatan Eropa karya Francois Valentijn.

 

Setelah kematian Truno Djojo, Kerajaan Madura tunduk kembali kepada Susuhunan, yang segera memberikannya kepada Pangeran Cakra Ningrat. Pangeran memiliki separo wilayah barat Madura, yang disebut Sampang, sedangkan bagian timur Madura, atau Sumenep, menurut permintaan Susuhunan dan persetujuan pasukan perang, diberikan kepada Macan Wulan, yang kemudian mendapat gelar Tumenggung Yuda Nagara.

Bagian timur kewilayahan Mataram mulai dibersihkan dari para pemberontak yang tersisa, yang paling terakhir adalah wilayah Panembahan Giri, berjarak dua atau tiga mil dari Surabaya, disini adalah pekerjaan terberat untuk diselesaikan.

Susuhunan Amangkurat (II) kemudian memberikan wilayah Giri kepada Raden Angga Kusuma, putra saudara lelaki Panembahan Giri, kemudian memberinya nama Mas Giri.

Tak seorang pun pemimpin di Jawa yang tidak datang kepada Susuhunan kecuali Pangeran Puger, sehingga surat-surat dari Susuhunan dan juga Kompeni segera dikirim kepadanya. 

Setelah beberapa lama, Pangeran Puger datang, tepat setahun pasca dipukul mundur dari Mataram, ia datang di kotaraja tanggal 17 November 1681, di bawah bimbingan beberapa Kiyai di Ambal dengan para Raden dan semua kerabatnya.

Karena dia adalah saudara Susuhunan, ia disambut baik oleh Kompeni, dan berjanji untuk melawan pemberontak tersisa bernama Nimrod.

Diketahui bahwa Nimrod adalah seorang Makasar, yang datang di Jawa sebagai budak ke Batavia, setelah itu melarikan diri ke Bagelen dan bergabung dengan pemberontak di daerah pegunungan.

Saat pemberontakan Truno Joyo, dia bergabung dengan Raden Kajoran sebagai punggawa perang. Dan setelah kematian Kajoran, ia bergegas pergi menuju Salinga. 

Akhirnya tanggal 18 Desember 1681, setelah kehilangan banyak pasukan, Nimrod terbunuh oleh Kompeni di desa Wanagiri, di dekat Sungai Klawing.

Setelah Jawa dalam keadaan tenang sepenuhnya, diketahui bahwa para pemimpin wilayah (bupati), yang berada di bawah Susuhunan berjumlah 41 orang, 19 di antaranya di wilayah pantai, dan 22 wilayah pedalaman. Blora masuk dalam kategori wilayah pedalaman dengan bupati bernama Raden Sutowongso. 

Buku tebal berbahasa Belanda tersebut menceritakan secara urut kejadian-kejadian besar Jawa, ditulis tahun 1726 M. Nukilan cerita diatas hanya bagian kecil dari kisah panjang perang suksesi Mataram, dimana Kompeni tampak memegang peran besar dalam perpolitikan Kerajaan-kerajaan Jawa.

Tentang penulis: Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

 

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan