fbpx

BLACAK NGILO DARI JIPANG

  • Bagikan
BLACAK NGILO DARI JIPANG
Foto Lokasi Goa Sentono

Raja Bungsu merupakan tokoh yang sama dengan Sunan Ngampel, seorang Waliullah pertama yang berdomisili di Ampel Denta (Surabaya). Raja Bungsu alias Raden Rahmat mempunyai saudara bernama Raja Pandita, mereka berdua merupakan anak seorang keturunan Arab yang lahir di Campa, dimana kehadirannya di Jawa dalam rangka menyusul bibinya yang telah dipersunting Raja Kertawidjaja (1447). Raja Pandita menetap menjadi Imam di salah satu masjid Gresik, sementara Raden Rahmat atau Sunan Ngampèl, atas bantuan seorang pecat tanda Arya Sena, menjadi imam masjid Surabaya, tak jauh dari pasar Terung. Dikatakan bahwa Raden Rahmat kemudian menikah dengan seorang putri Adipati Tuban, tetapi hubungan Sunan Ampel ke Jipang-Ulu sudah terjadi lebih dahulu. Dari pernikahan Sunan Ampel dengan putri Patinggi Jipang (Jipang-ulu) lahirlah Sunan Bonang, dan satu anak perempuan lagi yang kelak menikah dengan Sunan Ngudung, tokoh penguasa Ngloram, Jipang-Pasar (Naditirapradesa Merbong). Demikian episode tentang Jipang-Ulu dari nukilan Hikayat Banjar itu.

Sebagai pembanding Hikayat, ada baiknya diurai tentang tokoh asli desa Menden Kradenan bernama Blacak Ngilo, seorang tokoh antagonis terkait legenda Gua Sentono. Legenda ini juga tercatat dalam sebuah buku berjudul Cariyosipun Banawi Sala, ditulis oleh bupati Bojonegoro, Adipati Arya Reksa Kusuma tahun 1918, dan berisi tentang legenda-legenda sepanjang aliran Bengawan Solo. Cerita tutur ataupun catatan legenda desa Menden ini, nampaknya mengandung kebenaran sejarah meskipun bumbu fantasi mengambil bagiannya sendiri. Legenda bukanlah bukti primer sejarah, tetapi bisa jadi sebagai pelengkap alur kisah, tentang keruntuhan sistem “kafir” kerajaan Majapahit, yang ternyata selalu dibarengi dengan muculnya tokoh-tokoh protagonis Islam di pedalaman Jawa.

Konon, Blacak Ngilo berasal dari puncak gunung Bonang (Gunung Arga Lasem), dimana ia dan seluruh pengikutnya adalah tokoh yang selalu membuat keresahan di desa-desa dengan merampas kekayaan warga, juga dibenci rakyat sehingga harus diadukan kepada Kyai Modin untuk menghentikan gerak langkahnya. Seorang Kyai bernama Kyai Modin, yang kemudian disebut Modin Bonang oleh rakyat Bonang (Lasem), dianggap mampu untuk menundukkan Blacak Ngilo. Pertama-tama Kyai Modin berkunjung ke tempat Blacak Ngilo untuk diminta pertobatan, namun usaha itu gagal. Kemudian dia harus mengikuti seluruh gerak langkah Blacak Ngilo yang dikatakan misterius sekaligus sakti, yang bisa menghilang dan berpindah dari tempat satu ke tempat lain dengan cara ambles bumi (masuk ke dalam tanah). Blacak Ngilo mampu untuk tenggelam dan mucul lagi dari tempat satu ke tempat lain dengan sekejap mata, tetapi Kyai Modin selalu berhasil mengikutinya. Tempat-tempat itu adalah Bonang, gunung Kajar (Lasem), gunung Rengel (Bojonegoro), dan juga Tuban Selatan. Tetapi kesaktian yang serupa benar-benar dimiliki oleh Kyai Bonang, bahkan lebih mumpuni, karena sang Kyai mendapat dukungan dari rakyat dari belakang.

Perselisihan diakhiri dengan menyerahnya Blacak Ngilo di tempat pelarian terakhirnya di tepi Bengawan, tepatnya di Goa Sentono, tempat yang suci karena beliau harus mengambil air wudhu untuk sampai ke tempat itu. Blacak Ngilo kehilangan segala kekuatannya, tetapi ia tidak juga mati, dan harus menemukan cara kematiannya sendiri di desa Menden. 

 

BLACAK NGILO DARI JIPANG
Foto Lokasi Goa Sentono

Goa Sentono terletak di tepi desa Menden, berhadapan langsung dengan Jipang-Ulu, memiliki beberapa bukti artefak untuk memperjelas fungsi dan kegunaannya kala itu, sebagai tempat untuk berlindung dan tempat aman bagi para pendatang yang berlabuh di naditirapradesa Jipang. Dari bekas pahatan kubah batu di dalam goa Sentono, juga sebaran batu bata “Majapahit” di sekitarnya (J. F. G. Brumund, 1868: 177), mengindikasikan adanya bekas bangunan ibadah kuno. Bahwa Goa Sentono berposisi stategis dan berada di wilayah otonom nadhitirapradesa untuk memastikan rasa aman, sehingga disaat keruntuhan Majapahit, sangat mungkin digunakan sebagai tempat suaka bagi para pejabat Majapahit yang mulai kehilangan pengaruh dan kedudukannya. Dalam dongeng itu, Blacak Ngilo berasal dari Lasem, tempat dimana pengaruh Bre Lasem masih kuat, sehingga Blacak Ngilo dapat dimaknai sebagai tokoh atau gambaran sistem lama seorang petugas pengumpul hak raja (mangilala drewya haji) Majapahit di masa keruntuhannya, karena ngilo dekat dengan kata mangilala, sebutan kuno yang berarti pengumpul pajak. Sementara itu, Kyai Modin, sudah tentu merupakan seorang tokoh agama Islam. Modin adalah sebutan tokoh Islam di kalangan perdesaan setingkat lebih rendah dari seorang Petinggi (Kepala Desa). Sehingga orang akan mudah menamai Modin Bonang sebagai Sunan Bonang, dan menurut Hikayat Banjar, beliau adalah cucu dari Patinggi Jipang (Jipang-ulu). 

Maka dari cerita rakyat itu dapat ditarik kemungkinan sebuah wilayah “negeri” dengan sisa-sisa sistem Majapahit, yang paling akhir di wilayah Jawa bagian Tengah – kemungkinan wilayah yang bisa dikatakan sebagai Jipang abad 16 – meliputi sisi utara bantaran Bengawan Solo dari desa Menden sampai wilayah Rengel, ke utara jauh menuju pesisir Bonang (Lasem) dan ke Tuban. 

Tentang penulis : Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

 

banner 120x500
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan