fbpx

BPBD : KEMARAU TAHUN INI LEBIH PANJANG DARI TAHUN SEBELUMNYA

Foto Ilustrasi : Warga antri menimba air di sebuah sumur.

Blora – Sedikitnya 146 desa di 16 kecamatan kesulitan mengakses air bersih. Dampak kekeringan, diperkirakan akan terus meluas karena kemarau tahun ini akan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk menanggulangi hal ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora mengalokasikan anggaran yang mencapai Rp. 500 juta. Sedangkan pasokan air yang dimiliki BPBD Blora  sejumlah 500 tanki.

 

Foto Ilustrasi : Warga antri menimba air di sebuah sumur.

 

“Hingga hari ini, penyaluran bantuan air bersih masih terus kita lakukan. Puncak kekeringan kita perkirakan terjadi pada bulan Agustus ini,” jelas Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Blora, Sri Rahayu seperti dikutip Muria News, Minggu (05/08).

Bahkan, menurut perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jawa Tengah, Blora akan mengalami kekeringan hingga bulan September mendatang.

Sri Rahayu menambahkan, sejak sebulan sebelumnya (Juli), BPBD telah melakukan pendistribusian air bersih ke sejumlah desa yang mengalami kekeringan berat. Jumlah air yang terdistribusi mencapai 50 tanki per hari.

“Tapi kalaupun dari 500 tangki kurang dari BPBD akan mengajukan kepada bupati adanya kekurangan,” tegasnya.

Meski demikian, Sri Rahayu berharap kerja sama menanggulangi dampak kekeringan ini juga dilakukan oleh masyarakat, atau instansi / lembaga lain di Kabupaten Blora.

 

Reporter : Rosyidi