fbpx
OPINI  

JANGAN LUPAKAN DESA, PAK PRESIDEN

Ulul Azmi Afrizal Rizqi
Ulul Azmi Afrizal Rizqi

Jangan membayangkan berangkat sekolah dengan menggunakan kendaraan mewah dan seragam yang rapi. Jalan kaki ke sekolah tanpa sepatu dengan pakaian seadanya masih ditemukan pada generasi penerus bangsa. Belum lagi ketika musim kurang bersahabat, kondisi jalanan yang berlumpur hingga menyeberangi arus sungai harus dilakukan.

 

Ulul Azmi Afrizal Rizqi
Ulul Azmi Afrizal Rizqi

 

Pemandangan seperti itu masih banyak ditemui pada beberapa wilayah, utamanya mereka yang tinggal di perdesaan jauh dari pusat kota. Mereka bukan terpinggirkan, hanya belum menikmati kecukupan hidup yang dirasakan penduduk kota. Dengan fasilitas seadanya, anak-anak tetap semangat menuntut ilmu untuk membuka cakrawala. Menyibak tabir yang menghalangi keingintahuan mereka pada dunia luar.

Potret pendidikan di perdesaan negeri ini masih terlalu jauh jika dibandingkan dengan wilayah kota. Dilihat dari banyak hal, upaya mewujudkan sila kelima Pancasila dalam bidang pendidikan masih diperlukan kerja ekstra dari pemerintah. Sarana, akses, hingga faktor penunjang pendidikan masih perlu adanya penyamarataan.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (Susenas MSBP) 2018, terdapat ketimpangan antara penduduk kota dan desa terkait sarana transportasi yang digunakan siswa dalam bersekolah. Pada 2018, sebanyak 43,03 persen siswa di perdesaan pergi ke sekolah tidak menggunakan moda transportasi apapun, alias berjalan kaki. Sisanya sebanyak 11,29 persen dan 45,68 persen menggunakan kendaraan umum dan kendaraan pribadi.

Sementara, siswa di perkotaan cenderung banyak yang menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju sekolah, yaitu sebesar 54,43 persen. Sedangkan 15,65 persen dan 29,92 persen menggunakan kendaraan umum dan tanpa kendaraan.

Jika ingin melihat ketimpangan yang semakin jelas, data kemudahan akses internet bagi siswa yang masih bersekolah dapat menjadi tamparan. Di perkotaan, 63,04 persen siswa telah mengakses internet selama kurun waktu tiga bulan terakhir. Sementara hanya 39,60 persen siswa di perdesaan yang mampu mengakses internet. Padahal di era industri 4.0 ini hampir semua lini kehidupan telah memanfaatkan penggunaan teknologi internet.

Sungguh ironi melihat kedua fakta tersebut. Seperti yang digambarkan ilustrasi di awal, masyarakat perdesaan masih banyak yang kesulitan dalam memperoleh akses menuju sarana pendidikan. Banyak para murid di pedalaman yang harus berjalan kaki beberapa kilo meter untuk menuju sekolah. Belum lagi faktor cuaca dan kondisi geografis ketika musim hujan, banjir dan tanah longsor seakan mengintai kapan saja. Keterbukaan informasi dengan dunia luar juga terhambat akibat akses internet yang masih terbatas. Apakah pemerintah cuma tinggal diam?