fbpx

KI MULYONO, TUKANG TAYUH KERIS DARI TODANAN

  • Bagikan
Ki Mulyono melakukan tayuh pada Keris Jalak Ngore, Minggu (24/09).

Todanan – Ki Mulyono, pria 59 tahun ini mengenakan pakaian khas jawa, surjan dan ikat kepala. Penampilannya sangat menyakinkan untuk menunjukkan profesi yang ditekuninya selama sepuluh tahun terakhir, penjamas keris. Ki Mulyono asal Desa Todanan ini membuka praktek jamas keris di kawasan Eks-Stasiun Blora, sebelah barat Blok T Blora.

 

Ki Mulyono melakukan tayuh pada Keris Jalak Ngore, Minggu (24/09).

 

Pria yang telah sepuluh tahun menekuni jasa penjamasan keris ini, belajar langsung dari ayahnya, Ki Reso Sarji yang berprofesi sama. Ki Reso Sarji, dulu melayani penjamasan pusaka keliling di Desa Todanan.  Selain belajar teknik jamas keris, Ki Mulyono juga diajari cara memberi warang pada keris serta melakukan tayuh.

Menjamas merupakan ritual mencuci keris, biasa dilakukan ketika bulan Suro tiba. Keris-keris kuno, sering ditemukan serbuk-serbuk arsenik pada bilahnya, sangat beracun dan tidak sembarang orang bisa memberi warang pada keris. Sedangkan tayuh merupakan ritual untuk mengidentifikasi keris, dari kondisi fisik  maupun aspek metafisik yang terkandung di dalam keris.

Pelanggan Ki Mulyono tidak hanya dari Blora saja, tetapi juga dari berbagai daerah kabupaten tetangga yang meliputi, Bojonegoro, Tuban, Pati, Rembang dan Grobogan. Bulan Suro ini, Ki Mulyono membuka praktek sejak Jumat Kliwon kemarin.

Kepada pembaca Bloranews.com, Ki Mulyono menjelaskan langkah-langkah penjamasan keris seperti yang diajarkan Ki Reso Sarji kepadanya.

“ Waktu yang dibutuhkan untuk penjamasan sangat dipengaruhi dengan kondisi pusakanya, apakah ada banyak karat atau tidak dan kapan terakhir kali dijamas. Tapi secara umum, tahapan penjamasan dimulai dengan perendaman pada larutan air kelapa dan jeruk nipis. Bilah pusaka yangtelah direndam ini, kemudian digosok dengan buah jeruk nipis untuk mengikis karat yang ada,” jelas Ki Mulyono, Minggu (24/09).

Setelah digosok dengan buah jeruk nipis, pusaka kemudian masukkan ke dalam larutan arsenik warangan, setelah beberapa saat, pusaka dikeringkan dengan bekatul. Setelah itu, pusaka dibersihkan, disapu dengan kuas khusus dan terakhir dioleskan minyak cendana pada pusaka.

Untuk tata cara memberi warang pada keris, Ki Mulyono mengatakan warang yang terbuat dari batu arsenik ini direndam beberapa bulan sebelum digunakan. Selain sangat beracun, warang ini akan membentuk keindahan pusaka sehingga dibutuhkan ketrampilan dan pengetahuan khusus untuk melakukan pewarangan.

“Pusaka dimasukkan ke dalam larutan warang selama 10 sampai 15 menit, kemudian digosok dengan batu warangan dan buah jeruk nipis,” terang Ki Mulyono. Sedangkan untuk tayuh, Ki Mulyono mengamati kondisi fisik pusaka kemudian melakukan kontak batin untuk berkomunikasi dengan pusaka yang ditayuh.

Ki Mulyono, mendemonstrasikan cara melakukan tayuh pada keris yang dibawa salah seorang pelanggannya.

“Keris ini bernama Keris Sempono Cerito, bisa juga disebut Keris Jalak Ngore. Dibuat era Empu Gandring, Jaman Singosari. Memiliki pamor Supit Urang dan pamor Tangkis. Memiliki sumber Kinumbal. Panjang 32 senti meter, bahan pembuatannya dari campuran besi, baja dan meteorit. Memiliki 11 luk (lekukan keris),” terang Ki Mulyono sesaat setelah mengamati dan melakukan kontak batin pada keris.

Ki Mulyono juga berbagi tips perawatan keris sederhana, yaitu dengan meminyaki secara rutin pada malam Jumat Legi dengan campuran minyak Singer dan minyak Cendana.

Reporter : Habibi

  • Bagikan