fbpx

MANUSIA DAN KRISIS KEMANUSIAAN | PERBEDAAN PANDANGAN HOBBES DAN FREIRE

  • Bagikan
Illustrasi.

Di zaman yang serba hiruk pikuk, humanisme merupakan karakter langka dan bahkan telah memfosil dalam pikiran manusia. Kecenderungan ingin mendominasi menjadi sebab tercerabutnya karakter tersebut. Hingga banyak yang beranggapan bahwa dunia kini sedang diterpa krisis kemanusiaan. Suatu krisis yang melahirkan banyak masalah tentunya.

Kondisi itu menarik perhatian banyak pemikir untuk menyumbangkan pandangannya guna melerai masalah tersebut. Berbagai tokoh turut serta mendefinisikan hakikat manusia dan tugasnya di dunia. Namun yang paling menarik perhatian adalah pandangan tokoh pendidikan kritis, Paulo Freire dan salah seorang filsuf empiris, Thomas Hobbes. Karena ada sedikit perbedaan pandangan diantara keduanya dalam mendefinisikan hakikat manusia beserta tugasnya.

Paulo Freire menganggap fitrah dasar manusia ialah humanis, tekanan dari luarlah yang membuat manusia menjadi antisosial, tidak manusiawi dan bahkan mendominasi. Freire berusaha menjelaskan bahwa manusia terlahir ke dunia dalam keadaan suci dan membawa spirit kebaikan. Namun seiring berkembangnya waktu, pengaruh eksternal membuat kebaikan itu bergeser menjadi kejahatan. Dan menurut Freire, itu merupakan bentuk pengingkaran manusia terhadap fitrahnya.

Sedikit berbeda dengan Freire, Thomas Hobbes menganggap karakter lahiriyah manusia ialah antisosial. Menurut pandangan etis Hobbes, manusia adalah makhluk yang pada dasarnya ingin memuaskan kepentingannya sendiri. Mencari segala bentuk kenikmatan dan mengelak dari rasa sakit. Situasi ini tanpa sadar akan menjerumuskan manusia kedalam jurang persaingan, karena kepentingan diri itu pada gilirannya akan bertabrakan dengan kepentingan diri lainnya. Dan pada akhirnya, manusia akan saling berebut, saling menundukkan dan saling menguasai.

Di luar perbedaan pandangan kedua tokoh tersebut, krisis kemanusiaan memang menjadi masalah serius yang harus segera teratasi. Banyak sekali muncul fenomena yang mencerminkan tindakan tak manusiawi, baik dari sektor politik, ekonomi maupun sosial. Dalam sektor politik, Dosen University of Sidney, Thomas Power menilai indeks demokrasi di Indonesia kian turun.

Pada indikator pemilu dan oposisi resmi, Thomas menjelaskan bawa Indonesia kini nyaris tidak memiliki partai yang mewakili rakyat. Partai hanya dikuasai oleh kepentingan elit sehingga sistem kepartaian menjadi tidak representatif. Analisis itu merupakan salah satu bukti nyata hilangnya kemanusiaan, di samping bukti-bukti lain yang lebih dekat dengan kita.

Referensi: Pendidikan Kaum Tertindas (Paulo Freire), Filsafat Modern (F. Budi Hardiman), Tempo.co.

Tentang penulis: Mohammad Sodikhin Kasravi adalah kreator opini Bloranews.com

  • Bagikan