NYAMIN ITU SEDULURAN

Saya yang asli Mbloro, kadangkala merasa geli sendiri. Saat bertemu dengan kenalan baru menanyakan asal-usul saya, langsung nyeletuk ‘Wong Samin’.  Ya itu sebuah ‘poyokan’, kelakar yang bisa bikin terpingkal dan lalu nyedulur. Bagi saya, penyebutan itu sungguh bergengsi. Bertahun-tahun hidup di Jakarta, saya sendiri ‘gagap’ dengan budaya Metropolitan. Untuk semisal ngomong ‘Lu-Gue’ saja, tak mudah melafalkan. Kalau toh dipaksakan terkesan wagu. Kalau boleh rada kemaki, saya laksana batu karang ditengah samudera yang tak mampu dirisak oleh gelombang keras. Tetap bertahan dan tegak membawa identitas. Ya ke-mbloranan adalah ‘cap’ yang melekat dan serasa begitu berharga demi menjaga marwah diri, sikap teguh,  mandiri, tak mudah takluk dan tak larut oleh budaya luaran. 

 

Soffa Ihsan

Soffa Ihsan

 

Lahir dari Kepolosan

Keragaman di negeri ini bukan hanya jargon dan media kampaye, tapi sudah bersemayam di tanah subur bumi pertiwi. Banyak ragam budaya yang menandakan tersimpuhnya jamak kearifan lokal. Untuk urusan pemerian ini, Koentjaraningrat (1993) menyebutnya dengan masyarakat terasing. Ada sebutan lain seperti diungkap oleh Lim Tech Ghee dan Alberto G Gomes (1990), orang gunung (highlanders), orang asli (aboriginies), orang hutan (forest people) dan pribumi (natives). Namun, istilah terasing kini sudah dimusnahkan karena mengandung persepsi yang negatif. Gantinya adalah komunitas adat.

Samin memang kaya adat. Namun, Samin bukan seperti Orang Laut di Riau atau Suku Anak Dalam di Jambi. Samin juga bukan sebuah etnik laiknya Buton di Sulawesi Tenggara, atau Batak di Sumut, Bajo di Sulawesi Selatan dan lainnya. Samin melampaui etnisitas dan juga identitas. Yah, Samin adalah ‘nilai-nilai’ yang lahir bukan dari ruang hampa. Ia merujuk pada sosok pejuang yang polos nan lugu dan menjasad jadi panutan. Samin lahir dari nama sosok berrnama Ki Samin Surosentiko atau Raden Kohar yang bergelar Ratu Adil Heru Cakra dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Tokoh kita ini lahir di Blora, kemudian oleh Belanda diekstradisi ke Sumatra hingga wafatnya dan dimakamkan di Sawahlunto.

Blora, kota imut di tubir Jawa Tengah itu, segelaran waktu hingga kini menangguk nilai-nilai betapa sebuah keberanian yang hanya dilatari oleh kepolosan terrnyata mampu memberikan pengaruhnya yang mengental, hingga kini. Maka Wong Samin menyebut dirinya Sedulur Sikep, sebuah ungkapan yang menunjukkan sikap orang baik dan jujur. Sebutan yang juga menyuratkan persaudaraan yang berterali kuat dengan keluhuran budi.

Tak syak, Samin adalah sebuah ‘sikap’  yang mewariskan nilai-nilai keadiluhuran. Salah satu ajaran dasar yang menjadi ciri khas masyarakat Samin adalah sikap anti kekerasan yang mereka amalkan dalam sikap saling menjaga kerukunan antar sesama. Masyarakat Samin sangat mengedepankan toleransi. Sikap inilah yang diterapkan para tetua masyarakat Samin saat penjajahan Belanda. Sikap pendirinya yang kukuh menjaga kejujuran, kepolosan, seduluran, keramahan tetap lestari hingga anak turunnya yang kini mukim di Blora, Bojonegoro dan Pati.

Samin juga mengguratkan sebuah kredo; perlawanan. Sejak ditancapkan sikap Samin, mereka terus melakukan penolakan terhadap kolonial Belanda yang bermatair dari kepolosan dan kejujuran, bukan pembangkangan yang banyak tertoreh dalam persepsi sepanjang ini. Perlawanan atas kesemena-menaan melalui gerakan senyap, tanpa kekerasan.  Samin juga bermain dengan logika. Logika yang tak berdakik-dakik, namun mampu membalik-balik ketakwarasan 

 

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan