GUGURNYA SUNAN NGUNDUNG, SUNAN DARI JIPANG

Raja Mojopait memiliki istri seorang Cempo, yang bernama Putri Dworowati, tetapi, setelah mengandung seorang anak, dan setelah mendapat tekanan dari permaisuri, istri itu akhirnya disingkirkan dari Jawa, menuju Palembang. Pada saat itu penguasa tertinggi jajahan Jawa di Palembang – yang telah ditaklukkan oleh senopati Jawa Handayaningrat tahun 1458 – telah meninggal dunia, itulah sebab mengapa Kertabhumi memutuskan untuk mengirim putranya yang bernama Ario Dhamar ke sana, dan wanita Cempo itu diberikan kepadanya.

 

Terbunuhnya Sunan Ngundung, Sunan dari Jipang Panolan.

Lokasi messigit Jipang dan Loram

 

Ario Dhamar membawanya ke Palembang, dan tak lama ia melahirkan seorang putra yang kemudian diberi nama Raden Patah. Setelah itu dia melahirkan seorang anak laki-laki lagi yang bernama Raden Kusen. Sehingga Raden Kusen adalah anak kandung Ario Dhamar.

Setelah bertahun-tahun berada di Palembang, Raden Patah dan Raden Kusen akhirnya bertekad untuk ke Jawa. Mereka berlabuh di Ngampel dan di sana mereka diajar oleh Sunan Ngampel, atau Raden Rahmat, alias Raja Bungsu dari Pasai, mengenai ajaran Islam. Radén Patah saat itu berusia 20 tahun, dan ketika menghabiskan satu tahun berguru di Ngampèl-Denta, Raden Kusen mendesak saudaranya untuk pergi ke istana Mojopait. Tetapi ajakan itu ditolak Raden Patah. Mengatakan bahwa ia telah Islam, dan tak sudi datang kepada Raja yang ‘kafir’.Ia tetap tinggal di Ngampel, sementara di tahun 1465, Raden Kusén pergi ke Mojopait, diterima di sana dengan baik oleh sang ‘kakek’, menjadikannya sebagai seorang Adipati Terung dengan gelar Pecat-Tondo.

Sekitar waktu 1460-80, jumlah penguasa wilayah yang muslim, dan orang-orang mualaf meningkat secara drastis. Di sekitar Messigit yang didirikan di Ngampel-Denta, muncul pemukiman umat Islam, dimana Sunan diangkat sebagai imam yang sangat dihormati, dan setiap kata-kata yang muncul darinya seolah menjadi ramalan masa depan Jawa.

Seorang petinggi Jipang datang ke Ngampel, dan atas petunjuk dari Sunan, bersedia menjadi Islam. Putri dari pemimpin Jipang, atau disebut Wali Santri itu, akhirnya menikah dengan Sunan Ngampel. Dari pernikahan itu lahir satu anak laki-laki dan satu perempuan, bernama Ario Tedjo, dan Nyi Gede Pancuran. 

Sementara itu, Raden Patah, dari seorang murid yang sederhana, menjadi orang yang fanatik dalam Islam, karakternya yang tak cepat puas dan tangkas paling menonjol diantara murid-murid Sunan yang lain. Sunan Ngampel lalu menyarankan agar dia segera pergi ke barat, dimana akan dijumpai tempat dengan tanaman gelagah wangi. Ketika ia sudah menemukannya, maka ia harus membangun rumah ibadah dan sebagai tempat tinggal, sebagai guru kitab suci, sehingga kota baru akan muncul, diatas kota kuno, Islam akan menjadi makmur. Raden Patah mengikuti nasihat gurunya, lalu berjalan ke barat, dan berlabuh di salah satu tempat yang kemudian disebutnya Bintoro, dan dari sanalah kota Demak muncul. Ini terjadi pada 1468.

Keturunan sang Sunan, Nyai Gede Pancuran, kemudian menikah dengan Sunan Ngundung, yang baru masuk Islam, dia adalah penguasa selatan Gunung Muria, dan menjadi imam dekat dengan Panolan. Sedangkan Ario Tedjo kemudian pergi dari Ngampel dan menjadi seorang Sunan di Bonang, dekat Lasem.

… Rupanya, Raja Kertabhumi, setelah mendengar kabar ini, tidak serta merta mengabaikan persiapan yang dibuat oleh penguasa-penguasa wilayah yang Islam dan ingin merdeka, yang setiap saat bisa saja berperang melawan dirinya.

Raja kemudian mengumpulkan pasukan dan memberikan perintah kepada putranya Raden Gugur, sang putra mahkota, dan kepada Patih Mahodara, dan Raden Kusen, Pecat-tondo sekaligus Adipati dari Terung. Ketika pasukan Islam bergerak menuju Gresik melalui Bengawan Semanggi, di bawah komando senopati Sunan Ngundung, seorang Jawa yang juga bernama Kiai Gedé Tarub, ayah Sunan Kudus, ayah angkat Raden Bondan Kejawan. Pasukan ini dihadang oleh Raden Kusen, Adipati dari Terung. Bagaimanapun, pasukan Mojopait meraih kemenangan penuh, di mana Sunan Ngundung terbunuh pada tahun 1478. Jenazah Sunan dibawa dengan kemegahan ke Jipang dan dimakamkan dekat dengan Messigit. 

Ini adalah gelegar terakhir dari Mojopait yang perkasa, yang sebelumnya menguasai penuh seluruh wilayah timur. Pasukan yang menang kemudian melanjutkan perjalanannya ke Giri, ke wilayah yang dikuasai oleh Sunan Giri yang telah mengambil sikap merdeka. Sebagian murid-murid Sunan berusaha melawan pasukan Mojopait, tetapi pasukan Mojopait mengusir mereka dan menakhlukkan Giri. Terlihat Sunan Giri, berzikir dan berdoa.

Sementara itu rakyat Gresik tak terbendung lagi ke Giri menuju kediaman sang Sunan. Sunan Giri merupakan penerus dan anak angkat Nyai-gede Penatih, seorang putra Wali-Lanang, kelahiran Blambangan yang dibuang ke selat Bali. Pada suatu waktu pasukan Mojopait lari ketakutan oleh “serangan lebah”, dan pasukan yang tersisa melarikan diri kembali ke kota Mojopait. Kesulitan ini mempengaruhi para penguasa wilayah pendukung Raja Mojopait, dan kekuatan pasukan yang masih setia berkumpul di Singosari, bagian dari Blambangan dan Doho, terdiri dari orang-orang yang kepercayaan Kertabhumi yaitu putra mahkota, Patih, dan Adipati dari Terung.

Keberanian penguasa wilayah muslim berkurang atas kekalahan pertama, namun segera meningkat saat pasukan Mojopait mundur dari Giri. Penguasa- penguasa wilayah muslim ini kemudian membuat aliansi. Ditambah lagi fakta bahwa Raja Mojopait tidak lagi mengirimkan utusannya ke Bintoro, dan meninggalkan wilayah itu untuk waktu yang lama.

Bacaan : Hikajat Hasanuddin, Hikayat Banjar, Babad Tanah Jawi, Further Topographical Notes on the Ferry Charter of 1358, Handleiding tot de kennis der Geschiedenis, Aardrijkskunde, Fabelleer en Tijdrekenkunde van Java.

 

Tentang penulis: Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan