fbpx

JEJAK BANJIR BLORA 1879

  • Bagikan
Gambar. Desa Jenar (1947)
Gambar. Desa Jenar (1947)

Tepat di Tahun Baru Imlek, yang disebut tahun Kelinci, pada malam tanggal 23-24 Januari 1879, di Blora, turun hujan lebat yang berlangsung hingga malam. Orang Blora tidak mengenal banjir sebelumnya, sehingga warga sama sekali tak dapat membayangkan, setelah satu jam atau lebih air melewati beberapa jalan dari arah timur mengalir ke sisi kota; bahkan saat itu masih dianggap bahwa aliran itu hanyalah kumpulan air yang akan mengalir ke parit seperti hujan deras biasanya.

Tetapi pada 8 malam hari di sekeliling pusat kota, kepanikan melanda, kentongan dipukul, kepanikan yang luar biasa terjadi di antara penduduk kampung, orang-orang Tionghoa serta beberapa warga Eropa.

 

Gambar. Desa Jenar (1947)
Gambar Desa Jenar (1947)

 

Seketika, air naik dari 1/2 menjadi 2 meter di jalan utama menuju Rembang, dan di sepanjang kampung Tionghoa.  Kemudian air banjir itu mengalir ke kampung Tempelan, Mlangsen dan Jetis, di jalan, di rumah dan pekarangan warga. Bahkan, di beberapa titik, ketinggian air lebih 2 meter di atas permukaan tanah. 

Teriakan dan kepanikan semua orang menjadi-jadi, baik penduduk Jawa dan orang-orang Cina tidak bisa dihindari; beberapa wanita dan pria berteriak kesakitan, banjir terjadi secara tiba-tiba.

Segera, baik dengan berjalan kaki maupun menunggang kuda, pemerintah daerah, Bupati, dan singkatnya semua penduduk Eropa, turun menuju lokasi banjir untuk menuju ke titik-titik berbahaya. Segala langkah kerjasama dilakukan untuk menyelamatkan mereka yang dalam bahaya.

Semua penduduk yang terdampak diarahkan menuju dalem Bupati. Karena Aloon-aloon adalah titik tertinggi Kota Blora. Ribuan orang, wanita, anak-anak, dan ternak kemudian mengungsi ke Aloon-Aloon Blora di dekat area dalem Bupati. 

Berkat tindakan sigap semua unsur pemerintah, baik kebangsaan Eropa maupun Jawa, tidak ada jatuh korban nyawa. 

Tempat-tempat pengungsian sementara, seperti di halaman belakang Assisten Residen dan di rumah-rumah orang Eropa dan Cina, yang terletak di tempat tinggi, banyak masyarakat dan warga Cina mencari perlindungan. Kantor Pos ikut bergabung sebagai tempat menginap.

Air banjir mulai surut sekitar jam 12 malam, dan pada pagi hari hanya tersisa beberapa titik genangan air.

Sebuah jembatan di Mlangsen (jembatan Tirtonadi), hanyut oleh air dan pindah ke tengah jalan. Beberapa rumah di kampung juga telah tersapu oleh banjir. Jelas telah terjadi malapetaka di antara warga miskin, Jawa maupun Cina. Tetapi masih tidak jelas menghitung jumlah kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir itu; saat itu diperkirakan sebesar 20.000 Golden Belanda.

Bahwa banjir Blora waktu itu berasal dari Sungai Lusi yang mengalir di sepanjang bagian timur pusat Kota. Tentang berapa banyak desa di sepanjang Loesi yang terdampak banjir sampai saat ini masih belum jelas diketahui.

Tetapi harus diakui bahwa upaya komandan Prajurit Blora (Pamong Praja), untuk menyelamatkan warga, beserta istri dan anak mereka, telah dilakukan dengan dengan hasil yang baik. Dampak terparah dirasakan warga yang tinggal di kampung Jetis, karena di kampung ini banyak sekali rumah yang rusak berat diterjang banjir.

 

Tentang penulis: Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

banner 120x500
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

error: Konten dilindungi!!