fbpx
OPINI  

KERAMAT SUNAN BONANG

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Diantara fenomena luar biasa yang berada di Tuban adalah beberapa mata air tawar yang ditemukan di tepi laut. Pada saat pasang, mata air itu benar-benar tertutup oleh air laut, sulit terdeteksi, tetapi segera setelah air pasang berlalu, mata air itu muncul kembali.

Anehnya lagi, salah satu mata air itu dikelilingi oleh dinding pasangan bata (Sumur Srumbung), yang cukup tinggi untuk mencegah gelombang pasang yang mengandung air garam bercampur dengan airnya.

Air sumur itu yang kemudian diambil oleh penduduk dan desa tetangga walau harus dengan sekoci, sebagaimana awak kapal laut memasok air minum untuk kapal mereka. Begitulah yang diberitakan menurut B.J.O. Schrieke dalam Het Boek Van Bonang (1916).

Orang-orang China menyembah dewa-dewa lokal di luar negeri mereka, dan itu adalah fakta. Juga ketika koloni awal China berlabuh di Tuban, telah memuliakan apa yang dipuja penduduk pribumi, berupa sumber air yang dianggap suci, hanya saja mereka memberitakan itu dengan:

Di tepi pantai, terdapat kolam kecil dengan air segar yang dapat diminum; disebut “Air Suci”. Pada masa dinasti Yuan, jendral kekaisaran Shih-Pi dan Kao Hsing datang untuk menyerang Jawa (1292 – 93), sebulan berlalu kapal tak juga bisa mendarat di pantai, air di atas kapal sudah habis; para tentara perang dalam keadaan genting; dua jendral menyembah Surga dan berdoa, berkata: “Kami telah menerima perintah kekaisaran untuk melawan orang-orang barbar, jika Surga ada bersama kami, maka munculkanlah mata air, dan jika (Surga) tidak bersama kami, biarkanlah tidak ada mata air.” Selesai berdoa, mereka menancapkan tombaknya sekuat tenaga ke pantai; seketika itu air muncul dari tempat dimana tombak itu ditusukkan; airnya segar dirasakan; semua orang minum dan bisa menyelamatkan nyawanya. Seperti bantuan dari yang Surga janjikan. Mata air itu masih ada hingga sekarang.

BACA JUGA :  MENGENANG SOE HOK GIE, SANG IDEALIS PENENTANG REZIM OTORITARIAN

Cerita ini berasal dari keterangan Ying-Yai Sheng-Lan yang ditulis tahun 1416.

Namun, cerita tentang tempat ini kemudian juga muncul dari literatur dan cerita lisan Jawa, tentang makam dan tempat-tempat keramat lain di Tuban dan juga di Blora, yang sampai sekarang dikaitkan dengan kehadiran Sunan Bonang.

Pada suatu ketika ada seorang Brahmana atau Pandita, yang sedang meneliti ilmu keislaman. Setelah membuat banyak kitab, tidak ada seorangpun di negaranya yang bisa mencukupi rasa hausnya akan ilmu. Tidak lama kemudian, ia mendengar bahwa di negri Jawa ada seorang wali bernama Pangeran Bonang, yang masyur dan tak tertandingi. Pandita itu segera berangkat ke Jawa, membawa kitab-kitabnya, untuk menundukkan Pangeran Bonang dalam adu pengetahuan.

BACA JUGA :  ASAL NAMA BLORA

Setelah sampai di laut utara Tuban, kapalnya diserang badai; semua kitab yang dibawa terhempas dan tenggelam. Dan ketika sampai di tepi laut, Pangeran Bonang terlihat berjalan sendirian di pantai dengan membawa tongkat besi di tangannya.

Pangeran Bonang berhenti, menancapkan tongkat itu di tanah, dan menanyakan maksud dari kedatangan mereka, Pandita menjawab: “Maksud saya menyebrang ke Jawa tidak lain adalah untuk berdebat ilmu dengan Pangeran Bonang, tetapi saya mengurungkan niat itu, karena kapal bersama kitab-kitab yang kami bawa telah tenggelam ke dasar samudra.” (Pandita itu tentunya tidak menyadari dengan siapa dia berbicara).

BACA JUGA :  PRIA KELAHIRAN BLORA SUKSES RAIH PENGHARGAAN DALAM AJANG INDONESIAN ACHIEVEMENT & BEST PERFORMING AWARD 2021

Setelah mendengar keterangan dari Pandita, orang suci itu menarik tongkatnya dari tanah. Dan sungguh ajaib, dari kesaktian Pangeran Bonang, muncullah sebuah sumur, dan bersama itu pula muncul kitab-kitab Brahmana yang hilang di samudra.

Tak perlu diragukan jika kemudian dikatakan bahwa Pandita itu telah mengabaikan maksud utamanya untuk berdebat ilmu. Pandita itu menyerah kepada Sunan Bonang, tinggal bersamanya seumur hidup dan tak kembali lagi ke laut.

Demikianlah, bahwa terlihat penghormatan terhadap sumur atau air suci ini, yang kemudian juga berkaitan dengan spiritualitas masa sebelumnya tentang Air Kehidupan (Nawaruci, Bimasuci), mempertahankan eksistensinya dengan khazanah “Keramat Sunan Bonang”.

Tentang penulis: Totok Supriyanto merupakan pemerhati sejarah dan budaya.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com