fbpx

KUNJUNGI BLORA, BALITBANGTAN BERTEKAT TINGKATKAN PRODUKTIVITAS

  • Bagikan
KUNJUNGI BLORA, BALITBANGTAN BERTEKAT TINGKATKAN PRODUKTIVITAS
varietas Cakrabuana

Blora – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian datangi Blora untuk meninjau langsung lahan sawah tadah hujan yang menjadi pilot project Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) di Desa Prantaan, Kecamatan Bogorejo. (17/06)

Bupati Blora, Arief Rohman dan Kepala Dinas Pertanian, Ir. Reni Miharti, mendapingi rombongan di persawahan Desa Prantaan guna meninjau lahan sawah tadah hujan yang ditanami 10 varietas padi hasil penelitian Balitbangtan pada April lalu.

Sejumlah varietas Cakrabuana, Inpari 39 Tadah Hujan, Inpari 46 Agritan TDH, Inpari 43 Agritan GSR, Inpari 42 Agritan GSR, Inpari Digdaya, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 12, dan Inpago 13 Fortiz.

“Alhamdulillah ternyata pertumbuhan 10 varietas padi hasil penelitian Balitbangtan disini bisa tumbuh bagus. Yang paling bagus terlihat ada Cakrabuana, mungkin ini yang paling cocok dengan kondisi tanah Blora. Kami bertekad agar produktivitas pertanian bisa terus ditingkatkan meskipun pada lahan sawah tadah hujan yang minim air seperti di Blora ini,” ucap Fadjry Djufry, Ketua Balitbangtan.

Pihaknya berharap petani Prantaan dapat menjadi pelopor pagi petani lain.

Sementara itu, Arief Rohman  juga merasa senang ketika tahu lahan sawah tadah hujan yang biasanya mengalami gagal panen di musim tanam kedua (MT2) karena kekurangan air, kini bisa lebih baik dengan bantuan Balitbangtan.

“Terimakasih Balitbangtan Kementerian Pertanian. Blora yang biasanya dikenal kering, susah air, serta sering gagal panen kini perlahan mulai berubah dengan bantuan Pak Kepala Badan dan jajarannya. Jika memungkikan nanti saat panen akan kita undang Pak Menteri untuk hadir ke Blora untuk memotivasi petani kami,” ungkap Bupati.

Diperkirakan tanaman padi ini akan memasuki masa panen pada minggu pertama bulan Juli 2021. Untuk varietas Cakrabuana diprediksi bisa menghasilkan gabah sebanyak 10,2 ton per hektar.

“Dari 16 Kecamatan se Kabupaten Blora, ada ada 4 Kecamatan yang ketersediaan airnya stabil. Selebihnya merupakan Kecamatan dengan sawah tadah hujan. Dengan adanya teknologi RPIK ini, kami berharap kedepan bisa direplikasikan ke seluruh wilayah Blora,” tambah Bupati.

Sementara itu, Yatmo sebagai salah satu petani berharap program ini bisa terus berlanjut dan terus didampingi pemupukannya karena cukup memakai pupuk organik.

“Ketika sawah di desa sebelah sudah ditanami jagung karena kurang air, kita masih bisa panen padi. Ini luar biasa. Semoga berlanjut dan kami minta tolong diajari tentang pembuatan pupuk organiknya, atau pupuk kandangnya. Karena yang akan kita panen ini kemarin dipupuk dengan pupuk organik dari Pati. Padahal Blora sendiri banyak kotoran sapi dan jagung, serta bahan pupuk lainnya,” ungkap Yatmo.

Menggapai yatmo, Bupati mengaku siap mengawal dan bekerjasama dengan Balitbangtan untuk pendampingan pembuatan pupuk, hingga program lain seperti pembuatan pakan ternak. (Jay)

  • Bagikan