TAPA

Cerita semacam itu juga masuk ke dalam kesusastraan Jawa Lama dan Baru, menjadi hal yang lumrah jika secara umum sama ketenarannya. Kitab Jawa Kuno Adiparwa menerangkan cerita Pangeran Wigwamitra, tentang kelahiran Sakuntala saat melakukan pertapaan, berupa pantangan makan dan minum, di depan dewa Indra. Sakuntala lahir karena lolosnya cobaan dari dewa Indra dengan mengirim seorang bidadari surgawi Menaka yang cantik kepada Wigmamitra di tengah pertapaan. Dalam Arjunawiwaha, atau juga tergambar dalam Candi Surawana, adalah bukti bahwa masyarakat Jawa telah familier dengan cerita pertapaan pahlawan tercinta Ardjuna, sedemikian hingga semua musuh para dewa Niwatakawaca terbunuh.

Sebagian besar orang Jawa masih akrab dengan dewa dan tokoh pahlawan Hindu melalui Wayang. Properti religius bak wahana dunia para dewa itu tergerus pemahaman baru, kekuatan “tapa” pun tidak lagi menjadi faktor utama. Tetapi, gagasan “tapa”, walau dalam bentuk magis yang lebih rendah, masih hidup dalam arti sebuah konsentrasi tertinggi dari batin untuk mengatasi fenomena hidup, sebuah dorongan untuk kebebasan batin. Akan lebih menarik jika perhatian kita tertuju pada beberapa ciri dari konsep tapa yang belum pernah dikemukakan.

Dalam ajaran Jawa yang terkenal Sewaka, “tapa” tidak hanya disebut berarti menghukum diri sendiri, menarik diri kedalam kesendirian, jauh dari dunia luar, tunduk pada seperangkat aturan dan pantangan, tetapi juga mengolah sawah, berdagang, melayani, belajar (sasabin, adagang, ngawula, ngaji). Perwujudan aktivitas manusia itu terangkum di bawah sebutan : “matèkaké raga”.

Pada cerita tentang Wali yang terkenal, ciri yang khas ini kerap kali terjadi. Alkisah, Sunan Geseng yang saat itu belum menjadi Wali, bernama Pak Jolang, berusaha mencari kerbaunya yang tersesat. Untuk waktu yang lama dia berjalan dan akhirnya masuk ke dalam hutan, dimana dia menjumpai sebuah pertemuan antara sejumlah Wali yang membahas misteri dunia. Dia kemudian mendengar Sunan Kali Jaga berbicara tentang esensi jagat raya. Sehingga membuatnya menjadi yakin bahwa Sunan Kali Jaga pasti juga bisa menunjukkan kerbaunya yang hilang. 

Pada perjumpaan lain waktu dengan Sunan Kali Jaga di hutan, dia diperintah untuk berdiri tak bergerak sampai sang Sunan kembali. 

Tahun-tahun berlalu, hutan dan semak belukar tumbuh di atasnya, sehingga dia menjadi tak terlihat, tetapi tetap tidak bergerak. Akhirnya Sunan Kali Jaga mengingatnya dan segera menuju ke tempat itu. Pada awalnya, dia tidak dapat menemukan Pak Jolang, sehingga harus membakar habis segala sesuatu yang tumbuh di atas tempat itu (nglagar). Pak Jolang diangkat menjadi Sunan Geseng oleh Sunan Kali Jaga, dan wawasan tertinggi pun terserap di dalam dirinya.

Di dalam mitologi Hindu, “Tapa” dari Brahmana adalah “Juana”: tanda kebesarannya, pada Ksatriya adalah “Raksasa”, perlindungannya bagi yang lemah; bagi Waisiya adalah aspirasinya untuk rezeki, “Wartta”, dan bagi Sudra adalah untuk melayani, “Sevanam”. Di India, pondasi batin adalah tubuh. Sehingga lebih disukai untuk menarik semua Indra ke sistem Yoga, sebagai metode efektif untuk memurnian kesadaran. 

Sehingga dengan itu aktivitas monoton dan berkelanjutan dapat menjadi sebuah kekuatan Yoga yang jelas, disertai tujuan keselamatan.

Di sinilah mulai terungkap akar psikologis dari Jawa. Diperlukan alur langkah pencerahan batin, dilanjutkan monotonisasi kesadaran sehingga tercapai “Tapa”. Semua itu dapat dicapai melalui konsentrasi batin dan pengasingan diri, tetapi juga melalui sebuah dedikasi profesi atau kegiatan tertentu, atau juga, seperti kasus Sunan Geseng, pengendalian dan penyerahan diri dalam ketaatan absolut pada perintah Guru.

 

Tentang penulis: Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan