fbpx

WAFATNYA KEPEDULIAN MAHASISWA | SUMPAH PEMUDA HANYA SEBATAS IKRAR

  • Bagikan
Illustrasi.

Berbicara ihwal pemuda sama dengan membicarakan mukjizat nabi isa yang akan turun ke bumi guna menyelamatkan manusia. Karena pemuda dianggap penolong dan perubah keadaan ke arah yang lebih baik. Diksi yang sering kita dengar ialah “Pemuda harapan bangsa”. Begitulah tanggungjawab yang harus diemban pemuda dalam menempuh hidupnya. Bung Karno pernah menyampaikan, “Beri aku 1.000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” Pesan tersebut cukup memberitahu bahwa pemuda merupakan entitas penting di dalam masyarakat.

Sejarah mencatat bahwa pemuda berandil besar dalam proses perkembangan Negara Indonesia. Baik kala penjajahan, pra-kemerdekaan, kemerdekaan maupun pasca-kemerdekaan. Torehan tinta sejarah itu dimulai pada tahun 1908, ketika didirikannya Boedi Oetomo sebagai organisasi pemuda pertama di Indonesia. Kemudian berkembang sebelum pemuda kembali memperlihatkan taringnya pada tahun 1998, ketika berhasil menumbangkan orde baru dan melengserkan soeharto dari kursi kepemimpinannya. Kala itu Mahasiswa berdiri tegak sebagai representasi pemuda secara menyeluruh.

Dan hari ini kehadiran mahasiswa sebagai representasi pemuda tentu sangat dinanti-nanti. Namun naasnya, mahasiswa hari ini cenderung diam nan apatis dengan segala persoalan yang ada. Gejolak dan pemberontakan yang mulanya merupakan keniscayaan kini telah terkubur bersama kepedulian terhadap rakyat. Kondisi rakyat yang compang-camping bukan menjadi hal seksi lagi untuk dibahas. Bahkan banyak mahasiswa yang menganggap dirinya elit yang dekat dengan birokrasi dan terpisah dari rakyat.

Meninjau situasi di atas, paling tidak ada dua hal yang menyebabkan mahasiswa kehilangan kepeduliannya. Pertama, terkekang oleh peraturan kampus. Dan kedua, dijinakkan oleh pemerintah. Untuk yang pertama, peraturan kampus telah berhasil merubah mahasiswa menjadi kerbau intelektual, yang tugasnya hanya diam di dalam gedung akademik tanpa mampu menoleh ke samping untuk sekedar melirik rakyat yang sedang dibodohi. Mahasiswa disibukkan dengan pencapaian nilai dan didoktrin atas nama profesionalitas.

Kondisi ini membuat mahasiswa lalai atau bahkan tidak mengerti sama sekali tugasnya sebagai kolom pengaduan rakyat. Dan yang kedua, yang sudah sangat umum, mahasiswa telah dijinakkan oleh pemangku kebijakan. Sebagai contoh, banyak mahasiswa yang melakukan demonstrasi semu. Berdemo seolah membela rakyat namun ternyata demonya pesanan dari pemerintah. Suatu bentuk kemunafikan yang sangat menjijikkan tentunya.

Narasi di atas sudah jelas menandakan bahwa, pemuda terutama mahasiswa tidak pernah menggumpalkan esensi sumpah pemuda ke sanubari. Melainkan hanya sebatas mengucapkan ikrar dan prosesi ceremoni.

Tentang penulis: Mohammad Sodikhin Kasravi adalah kreator opini Bloranews.com

  • Bagikan