fbpx

BERGABUNGNYA PANOLAN MENJADI WILAYAH BLORA

  • Bagikan
BERGABUNGNYA PANOLAN MENJADI WILAYAH BLORA
Benteng Belanda di Plunturan/Cepu

Dua polar, Utara dan Selatan, nyatanya benar-benar membekas bagi Blora sampai sekarang. Walau lingkaran-lingkaran konsentris ala Pendopo diterapkan, benteng-benteng konsesi dengan jalur-jalur loji dijuatkan, untuk membungkam apa dan bagaimana wilayah selatan, toh secara naluri, tanah Blora bagian selatan memang sudah dekat – meminjam istilah Jawa yang sekarang populer kembali – dengan jangka, atau barangkali ‘sabda’, bahwa wilayah ini sudah saatnya untuk sekali lagi bangkit dari kekangan.

Wilayah itu bernama Panolan, secara geografis adalah wilayah utara bantaran Bengawan, yang mewarisi api ‘aji wurawari dari lwaram’, juga replika ‘kerajaan merah’ Jipang. Sehingga hampir mustahil sekarang untuk menemukan dimanakah titik pusat kota dari wilayah itu, yang dahulu pernah dominan menjadi pengendali di bentang alam mancanegara Medang dan Mataram. Hanya, Panolan mungkin berasal dari kata Pa-Nol-an, sehingga bisa dikatakan sebagai titik Nol, menunggu angka-angka tahun dimana sejarah kembali terulang.

Kronologi Jipang, Panolan dan Bojonegoro.

Sesuai laporan Belanda dari abad 17 sampai 18, Jipang waktu itu merupakan nama sebuah wilayah dari kerajaan Jawa yang diperintah oleh seorang Tumenggung. Setelah perjanjian pembagian kekuasaan Mataram di tahun 1755, wilayah Jipang menjadi bagian Sultan Jogjakarta, sampai Sultan menyerahkan wilayah ini dan sebagian wilayah kekuasaan lainya kepada Pemerintah Hindia Belanda dibawah Daendels dengan sebuah perjanjian tanggal 01 Januari 1811. Di bulan yang sama, Blora diserahkan oleh Sunan Surakarta kepada Belanda.

Semua wilayah Jipang diserahkan pada awal tahun 1811, kecuali Grobogan (Grobogan masih wilyah dari Jipang), yang diserahkan kembali kepada Sultan oleh Pemerintah Inggris dalam poin ke 7, perjanjian tanggal 28 Desember 1811. Tetapi tahun berikutnya, setelah militer yang dipimpin oleh Raffles memeta ulang wilayah Jogjakarta dan Surakarta, dalam poin ke 3 pada perjanjian tanggal 1 Agustus 1812, wilayah Grobogan diserahkan kembali kepada Inggris.

Pada Januari 1813, pemerintah Inggris kemudian membagi wilayah ini menjadi 2 Residen, dan menyatukan kembali menjadi 1 Residen pada Januari 1814, Residen itu kemudian berpusat di Padangan (atau Puwodadi di Grobogan). Residen Grobogan dan Jipang dihapus oleh Pemerintah Belanda pada Agustus 1815, Jipang kemudian bergabung sepenuhnya dengan Karesidenan Rembang di Januari 1816. Kota administratif Jipang kemudian berada di Bowerno.

Di tahun 1824 ketika Residen Rembang dan kabupaten-kabupatennya dibagi kembali sehingga memungkinkan kontrol yang lebih efisien atas hutan jati di wilayah ini, Kabupaten Jipang diganti namanya menjadi Radjegwesi, dan pendopo Kabupaten Jipang ‘diboyong ke Rajegwesi’. 

Sejak saat itu secara resmi wilayah Panolan (seluruh wilayah selatan Blora dari Cepu ke Jati) menjadi bagian dari Kabupaten terdekat yaitu Kabupaten Blora, sehingga akhirnya, pada bulan Februari 1825, Kabupaten Rajegwesi terbagi menjadi 7 distrik (kawedanan), yaitu Bowerno, Besuki (kemudian disebut Pelem), Temayang, Ngumpak, Padangan dan Tinawun, berpusat kota Rajegwesi itu sendiri.

Beberapa tahun kemudian, di tengah-tengah apa yang disebut Perang Jawa (1825-1830), sebuah pemberontakan skala besar terjadi di bagian wilayah Residen Rembang. Oleh Belanda, wilayah ini  memang dianggap sebagai daerah yang paling sulit untuk dikuasai. Pemberontakan berlangsung dari 28 November 1827 sampai Maret 1828, dipimpin oleh Raden Tumenggung Sosro Dilogo, yang adalah salah satu putra dari Bupati Rajegwesi terdahulu (Purwo Negoro yang tahun 1825 dipecat oleh Belanda karena merencanakan pembunuhan terhadap Asisten Residen) dan saudara ipar dari Pangeran Diponegoro. Pusat kota Rajegwesi dapat diambil alih olehnya untuk sementara waktu, dan direbut kembali pada tanggal 26 Januari 1828. Atas alasan keamanan diputuskan oleh Pemerintah Belanda, untuk segera memindah pusat kota. Imbas dari sebuah perjanjian tanggal 17 Februari 1828, pusat kota yang baru dibangun di sebuah desa dekat bantaran Bengawan Solo, bernama Kebon Gadung, 5 Km arah selatan kota yang lama, atau dekat dengan Ngumpak. Pusat kota ini kali pertama diberi nama yang sama; Rajegwesi, tetapi pada tanggal 25 September 1828, atas permintaan Bupati, nama kabupaten ini beserta nama kotanya, diubah menjadi Bojanegara (Bojonegoro).

Krolonogi diatas sedikit menjawab tentang rasa penasaran, tentang terbenamnya kutub selatan Blora. Namun belum sepenuhnya mampu menjawab, mengapa Panolan memang harus menjadi bagian wilayah Blora, yang setia menjaga rahasia ‘sabda’ itu. Dan mengapa nama Jipang yang berumur sangat tua, harus dikebumikan dalam-dalam.

Tentang penulis: Totok Supriyanto adalah pemerhati sejarah dan budaya.

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com

  • Bagikan