DI FLG XVIII, BARONGAN MUSTIKA AMARTA KAMABA TAMPIL MEMUKAU

Magelang- Aksi panggung barongan Mustika Amarta dari Keluarga Mahasiswa Blora (Kamaba) Yogyakarta, tampil memukau dalam Festival Lima Gunung (FLG) XVIII. Ini merupakan kesempatan ke sekian kali, Barongan Mustika Amarta Kamaba tampil dalam even skala nasional.

 

Barongan kamaba blora

Barongan Mustika Amarta Kamaba dalam Festival Lima Gunung XVIII di Magelang

 

“Ini merupakan sebuah kebanggan bagi kami, yang masih berlatih dan belajar budaya dapat perform (tampil, red) di sebuah event yang besar ini,” kata koordinator barongan Mustika Amarta Kamaba, Aan, Sabtu (06/07).

Baca: PAGUYUBAN BARONGAN MUSTIKA AMARTA KAMABA RAMAI JADWAL MANGGUNG

Barongan Mustika Amarta Kamaba, tampil pada hari pertama festival ini, yakni kemarin, Jumat (05/07). Festival ini akan berlangsung selama tiga hari, dan berakhir hari Minggu (07/07) besok.

Baca: BARONGAN “MUSTIKA AMARTA” KAMABA PIKAT TURIS BULE DI EVEN JIHW

Para penonton, diajak ikut bersorak seiring alunan musik ritmis khas barongan. Layaknya konduktor, wira swara Kamaba Mustika Amarta memandu para penonton bersorak, dan membuat penampilan seni ini makin meriah.

“Penampilan dari Barongan Blora sangat bagus, kostum yang dibawakan simpel tapi sangat berkesan. Pemain jaranannya juga cantik-cantik,” komentar salah satu penonton, Gatot.

Festival Lima Gunung

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kamaba Yogyakarta, Nike Nurjannah mengaku bangga dapat tampil dalam even kesenian berskala nasional ini. Menurutnya, mahasiswa Blora yang berada di tanah rantau selayaknya ikut mempromosikan kekayaan budaya daerah asalnya.

“Sebagai mahasiswa dengan tujuan belajar tetapi tidak melupakan kebudayaan itu keren sekali. Semoga ini dapat di laksanakan juga oleh saudara-saudara kami yang juga mahasiswa di tanah rantau untuk ikut mempromosikan dan melestarikan kebudayaan Blora,” ucapnya.

Sebagai informasi, FLG merupakan agenda tahunan yang digagas kelompok kesenian di lereng 5 gunung (Merapi, Menoreh, Sumbing, Andong, dan Merbabu) di sekitar Magelang, Jawa Tengah.

Festival ini terselenggara secara swadaya oleh masyarakat yang tinggal di desa, atau lereng gunung-gunung tersebut. Panitia tidak memungut biaya tiket masuk kepada para penonton. Pertunjukan dapat dinikmati secara gratis. (fhm/sya)

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Tinggalkan Balasan