fbpx
OPINI  

SALAH… TAPI NGEYEL

Ilustrasi
Ilistrasi

Berapa jumlah hewan yang masuk kedalam Bahtera Nabi Musa?

Jika kamu menjawab dengan jumlah berapapun – terlepas jika memang benar jumlahnya, maka anda akan salah! Bukan Nabi Musa yang membawa hewan masuk ke dalam Bahtera, tetapi Nabi Nuh. 

Ilustrasi
Ilistrasi

Pertanyaan semacam ini mengilustrasikan bagaimana otak anda dapat dengan mudah mengalami kebingungan dalam merespon sebuah kalimat semisal: tak bisa lagi berenang, seekor naga laut ini gunakan ban pelampung. Orang akan lebih mengandalkan jawaban intuitif yang langsung di kepala mereka, daripada merenungkan dan mengecek jawaban tersebut benar atau salah.

Mengapa Orang Tetap Merasa Benar Walaupun Sejatinya Salah

Pada tahun 1894, sebuah surat yang telah disobek- sobek ditemukan di keranjang sampah oleh staf dari seorang Jenderal Prancis. Maka dilakukanlah investegasi besar-besaran untuk mengetahui siapa yang lewat bukti surat itu telah menjual rahasia militer Perancis ke pihak Jerman. Dan kecurigaan kebanyakan orang mengarah pada Letkol Alfred Dreyfus.

Dreyfus tidak punya track record yang tercela, tidak juga punya motif untuk melakukan pengkhianatan. Tetapi bagaimanapun ada dua hal yang dapat membuat kecurigaan terhadap Dreyfus. Pertama, tulisannya mirip dengan surat yang ditemukan, dan lebih parah lagi, dia satu-satunya pejabat militer yang beragama Yahudi. Waktu itu, Militer Perancis dikenal anti Yahudi.

Lalu rumah Dreyfus digeledah, mereka tidak menemukan bukti apapun. Tapi ini malah dianggap sebagai bukti betapa liciknya Dreyfus. Tidak hanya berkhianat, dia juga menghilangkan semua bukti dengan sengaja. Lalu mereka memeriksa personal history-nya, bahkan menginterogasi guru sekolahnya. Ditemukan fakta bahwa dia sangat cerdas, menguasai 4 bahasa, dan punya ingatan yang sangat tajam. Maka ini pun dianggap sebagai “bukti” bahwa Dreyfus punya motif dan skill untuk kerja pada agen intelijen asing. Bukankah memang agen intelijen harus punya 3 skill itu? Benarkan?

Maka Dreyfus diajukan ke pengadilan militer, dan dinyatakan bersalah. Di depan publik, lencananya dilucuti, kancing baju dicabut, pedang militernya dipatahkan. Peristiwa ini dikenang sebagai “Degradation of Dreyfus”. Saat diarak oleh massa yang menghujat dia, Dreyfus berteriak, “Saya bersumpah saya tidak bersalah, saya masih layak untuk mengabdi pada negara. Hidup Perancis. Hidup Angkatan Darat”. Tapi semua orang sudah tidak peduli dengan teriakannya, dan akhirnya dia divonis penjara seumur hidup di Devil’s Island, pada tanggal 5 Januari 1895.

Mengapa serombongan orang pintar dan berkuasa di Perancis waktu itu begitu yakin bahwa Dreyfus bersalah? Dugaan bahwa Dreyfus memang sengaja dijebak, ternyata keliru. Para sejarawan meyakini bahwa Dreyfus tidak dijebak, dia hanya menjadi korban dari sebuah fenomena yang disebut “MOTIVATED REASONING”. Yaitu sebuah penalaran yang nampak sangat logis dan rasional, padahal semua itu hanyalah upaya mencari PEMBENARAN atas suatu ide yang telah diyakini sebelumnya. Tujuannya? termotivasi untuk membela atau menyerang ide tertentu, bukan mencari KEBENARAN secara jernih, dari pihak mana pun kebenaran itu berasal.

Maka kalau orang sudah mengeras sikapnya untuk sangat pro atau anti partai politik tertentu, atau sudah terlanjur gandrung ataupun benci dengan seseorang, maka orang akan cenderung mengalami “motivated reasoning” ini. Apa pun pendapat orang lain yang dianggap musuh akan nampak salah di pikiran “rasional”. 

Karena memang itulah hebatnya otak, selalu bisa menemukan alasan rasional, kenapa mereka salah, dan sayalah yang benar. Orang akan bisa mencari 1000 bukti yang membenarkan sikap itu. Bahkan hal-hal yang sifatnya netral, dengan tiba-tiba jadi nampak sebagai “bukti” dari kebenaran sikap ini. 

Kalau hati sudah dikuasai oleh cinta atau benci, dan berketetapan, “pokoknya saya pro ini, anti itu”, kita akan cenderung meyakini kebenaran segala pendapat yang mendukung pendapat kita, dan mengabaiakan segala argumen yang berlawanan dengan keyakinan kita. Kita jadi kehilangan akal sehat yang adil dan proporsional dalam menyikapi segala hal. Para psikolog menyebut kesesatan pikir ini dengan sebutan “CONFIRMATION BIAS”. 

Fenomena confirmation bias dan motivated reasoning ini sudah sangat lazim ditemukan di sekitar kita, bahkan kadang kita pun ikut jadi pelaku utamanya. Karena hampir semua dari kita telah mengambil sikap untuk memilih partai tertentu, suka tokoh tertentu, punya agama/madzhab tertentu, bahkan mungkin menjadi anggota fanatik supporter klub sepak bola tertentu. Semua ini telah menjadikan kita secara otomatis mudah sekali terjebak dalam 2 (dua) kesesatan pikir di atas.

Bagaimana dengan nasib Dreyfus? Adalah Colonel Georges Picquart, yang walaupun dia juga anti Yahudi, mulai berpikir, bagaimana jika memang Dreyfus tidak bersalah? Bagaimana jika karena salah tangkap, penjahat yang sebenarnya masih berkeliaran dan terus membocorkan rahasia militer Perancis pada Jerman? Kebetulan dia menemukan ada pejabat militer lain yang tulisan tangannya lebih mirip dengan surat yang ditemukan, dibanding tulisan Dreyfus. Singkat cerita, atas perjuangan Colonel Picquard, Dreyfus baru dinyatakan tidak bersalah 11 tahun kemudian. 

Yang paling menakutkan dari Motivated Reasoning dan Confirmation Bias ini adalah, pelakunya seringkali tidak menyadari dan membela pendapatnya mati-matian sambil menghujat pendapat lain yang berbeda, sehingga efeknya terjadi perang mulut, bahkan di beberapa negara, terjadi  genosida, dan perang saudara.

Maka bagaimana caranya agar kita bisa berpikir lebih adil dan jernih?

Bagaimana agar kita selamat dari 2 sesat pikir di atas? agar kita bisa membuat prediksi yang akurat, membuat keputusan yang tepat, atau sekedar membuat good judgement? 

Yang menjadi menarik, ini bukan berkaitan dengan seberapa pintar atau seberapa tinggi IQ kita atau gelar akademis kita. Kata para ahli, ini justru berkaitan erat dengan bagaimana anda “merasa”.

Untuk memiliki good judgment (penilaian yang jernih), khususnya untuk hal-hal yang kontroversial, kita tidak lalu membutuhkan kepintaran atau analisa yang canggih, tapi kita lebih membutuhkan kedewasaan psikologis dan pengelolaan emosi yang baik.

Jadi apa yang paling kita inginkan? 

Apakah membela mati-matian pendapat subyektif kita?

Ataukah ingin melihat dunia dengan mata hati sejernih mungkin?

Tentang penulis: Totok Supriyanto adalah pemerhati budaya

*Opini di atas merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab Bloranews.com