MANGANAN , TAK MEMBEDAKAN STATUS SOSIAL

Blora – Tradisi manganan sudah cukup tenar dikalangan warga masyarakat di wilayah desa di Kabupaten Blora. Bagi mereka yang tinggal di daerah ini, masih kental memegang teguh tradisi dan budayanya.

Manganan sendiri dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi selama setahun yang diberikan oleh Tuhan YME. Sehingga tradisi ini, oleh masyarakat selalu dilestarikan. Selain itu, untuk mengingatkan pada generasi penerus, akan pentingnya menjaga tradisi para pendahulu.

 

Manganan Blora

Manganan sendiri dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi selama setahun yang diberikan oleh Tuhan YME Foto : Luqman Wijayanto

 

 

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan Pariwisata (Dinporabudpar), Kunto Aji yang diwakili Kabid Kebudayaan, Sukartono dalam acara yang dilaksanakan di Dukuh Pojok Desa Buluroto Kecamatan Banjarejo hari ini, Jum’at Pon (24/03/2017).

“Acara ini sudah sejak tadi malam, dengan melaksanakan pengajian di salah satu Masjid di Dukuh Pojok. Untuk manganannya ditempatkan di petilasan tokoh ulama, yang cukup dikenal warga, yaitu Sunan Pojok atau Syekh Abdul Rokhim,” kata Kades Buluroto.

Manganan ini, lanjut Sukartono, dipimpin oleh seorang tokoh agama setempat, dengan diawali penjelasan terkait acara tersebut. Sebelum dilakukan doa bersama ratusan masyarakat, bahwa acara ini telah menjadi tradisi dilakukan selama ratusan tahun, secara turun temurun.

“Tadi dijelaskan, bahwa acara ini sebagai penghargaan warga terhadap sejarah dan budaya para leluhur, jadi masyarakat tidak salah paham,” ujarnya.

Menurutnya, Acara ini merupakan kekayaan budaya bangsa yang luar biasa serta harus dilestarikan.

“Saya sendiri datang sebagai keluarga besar untuk hadir dalam acara manganan itu. Acara ini juga berbeda dengan sedekah bumi atau gas deso. Ada yang spesial, anak-anak muda yang diluar kota sampai pulang hanya untuk ikut dalam acara ini,” jelas Sukartono.

Pihaknya yang datang dalam acara tersebut, melihat penyelenggaraannya yang sudah dikelola dengan baik dengan dibentuk panitia dan ada paguyuban yang tempat maupun acaranya.

“Diharapkan, acara ini dapat tetap dilestarikan terus, karena menjadi warisan leluhur,” pungkas Kabid Kebudayaan.

Aktifis Seni Budaya Blora, Lukman Wijayanto menyebutkan, masyarakat berkumpul di pagi buta di dilokasi, yang diyakini menjadi petilasan Pangeran Malayakusuma sebelum menjadi pemakaman umum. Untuk menggelar ritual tersebut, tentu saja tak lupa dengan berbagai makanan.

Uniknya dalam acara yang dimulai sejak subuh ini, warga sudah berdatangan sambil membawa penganan yang dimasak dari rumah masing-masing.

“Tetapi itu makanannya tanpa memakai garam ataupun bumbu, untuk dimakan bersama-sama tapi saat dimakan seperti masakan normal,” ungkap Lukman yang ikut makan bersama warga setempat.

Ratusan warga dari berbagai kalangan tanpa membedakan status sosial, berkumpul dalam kebersamaan dan toleransi yang sangat baik.

 

Reporter : Ngatono

Subscribe

Terima kasih telah membaca berita kami, Isi Kotak di Bawah untuk berlangganan newslatter kami.

No Responses

Comments are closed.